Pertama,tidak ada yang kurang dari negeri ini.Allah SWT telah melimpahkan karunia-Nya dengan selaksa kenikmatan bagi para hamba yang hidup diatas perut Indonesia ini.Negeri ini kaya raya.
Kedua,orang boleh mengatakan bahwa negeri ini miskin,dan itu merupakan realitas yang tak terbantah,lantaran rata-rata penduduknya berada dalam taraf hidup nirsejahtera.
Dua pandangan yang kontradiktif itu menjadikan kita boleh tercengang-cengang.Tercengang,lantaran kita memang menjadi terheran-heran disertai sebuah pertanyaan:"Kok bisa begitu?"Mengapa alam terkembang dengan berlaksa-laksa kenikmatan hidup itu raib dari bumi pertiwi ini? Jika dulu memang bangsa kita masih bodoh dan membiarkan imperialisme Belanda meraup apa yang teronggok di pelataran ranah Nusantara ini,tetapi mengapa setelah kita Merdeka,tetap saja kekayaan bumi ini raib entah kemana,dibiarkan dijarah orang,sementara,pada bagian besarnya rakyat masih serba kurang: kurang makan,kurang gizi,kurang sehat,kurang pendidikan?
Lucunya pula,begitu banyak kaum cerdik pandai yang sesungguhnya pantas mendapatkan sebutan sebagai"ulul albab"justru tidak mampu 'membaca tanda-tanda zaman'.Kalaupun mampu dan memiliki kepahaman,tetapi mereka dikalahkan oleh angkuhnya roda kekuasaan.Ada perlawanan dari orang-orang yang sadar dan paham tetapi mereka tergilas oleh 'angin samun' yang berkadar panasnya ketamakan duniawi.Kemudian,pada giliranya negeri yang konon dicitrakan sebagai gemah ripah loh jinawi itupun tak mau dan enggan menjadi toto tenterem kerto raharjo! Alhasil,yang terebak adalah bangsa ini kini jadi bangkrut.Jika paroh besar rakyatnya menderita kekurangan dalam sisi kebutuhan hidup asasi,sebahagian orang juga mengalami depresi kehidupan sehingga diantaranya menderita komplikasi penyakit: kurang peduli,kurang kasih sayang,kurang ramah,kurang santun,dan yang paling menyedihkan sampai ke tingkat akut: kurang ajar.
BERCERMIN KEPADA AL-QUR'AN
Bagaimana jika ditilik dari sisi pandang Al-Qur'an?Disitu banyak sekali jawaban.Tidakkah kita perhatikan bagaimana perangai dan tingkah laku kaum-kaum terdahulu yang kadung salah jalan? Diberi nikmat,tetapi mereka mengingkarinya.Diajak kepada jalan kebenaran(al haqq)mereka malah memilih ke jalan yang sesat.Diberi peringatan matanya berpaling,disuarakan nilai-nilai kebajikan telinganya tuli,diasah nuraninya hatinya tertutup.Hingga pada akhirnya sampailah kepada mereka sebuah keadaan sebagaimana di nukilkan Al Qur'an:
"Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka,dan penglihatan mereka ditutup dan bagi mereka siksa yang amat berat"(QS.Al Baqarah:7)
Matinya nurani,mereka itu tidak dapat menerima petunjuk,dan bahkan segala macam nasehatpun tidak akan berbekas padanya.Itulah yang terjadi pada Kaum Saba,Kaum Tsamud,Kaum 'Ad,umat Nabi Nuh,Nabi Luth dan umat-umat terdahulu lainnya.Begitu terang dan jelasnya Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW memberikan pengajaran dan pelajaran.Cobalah kita mengaca kepada Al Qur'an,sebab tidak ada jaminan buat negeri ini untuk terus dapat tegak diatas bumiNya ini,manakala Allah SWT marah melihat kelakuan dan perangai hamba-Nya yang kufur nikmat dan cenderung membiarkan diri bergelimang dalam kesesatan dan kekeliruan menempuh jalan.Karena,jangan-jangan tanpa sadar kita adalah termasuk dalam kelompok insan sebagaimana yang digambarkan dalam ayat selanjutnya:
"Diantara manusia ada yang mengatakan: 'kami beriman kepada Allah dan hari kemudian' padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman".(QS.Al Baqarah:8>
LALU BAGAIMANA...
Melihat kebangkrutan yang terjadi dan kita alami sepanjang waktu berlalu ditengah kehidupan berbangsa ini,maka tak ada jalan lain selain kembali kepada Al Qur'an.Ini klaim yang masuk akal,karena kita mayoritas penganut Islam.Maka pulangkan persoalan yang dihadapi kepada sumbu awalnya.Mengadulah kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya pengaduan,berserah diri dalam ketaklukan yang nyata,bukan lip servis atau basa-basi.
Hempaskan diri dengan segala perangkat yang kita miliki(akal,hati,jasad) untuk mau ditata ulang dalam nilai-nilai keimanan di dalam Islam: keberserahdirian.Mintalah pertolongan di dalam ketakutan pada-Nya,didalam munajat dan do'a-do'a keampunan.Lakukan oleh setiap diri ini masing-masing bukan dengan model seremonial seperti apa yang biasa kita sebut sebagai"Tobat Nasional".Tetapi lakukan dalam setiap usai shalat-shalat yang kita kerjakan.
Hanya dari masing-masing atau dari tiap-tiap dirilah hal-hal yang bernuasa kebajikan (bahkan yang sebaliknya,keburukan,kejahatan,kemungkaran) itu bisa terjadi.Firman Allah SWT: "Dan didalam dirimu sendiri,maka apakah kamu tidak memperhatikan?".(QS.Adz Dzariyaat:21).Maka kembali kepada diri sendiri: masih sukakah kita menyimpan nafsu hewani?
bersambung...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar